Terperangkap Di Dalam Gua Selamat Alasannya Amal Sholih




Pada zaman dulu, 3 orang perjaka dalam satu perjalanan beristirahat di dalam sebuah gua untuk berteduh dari hujan lebat. Tiba-tiba pintu gua tertutup oleh satu kerikil yang besar. Mereka coba membuka kerikil itu tetapi tidak bisa.

Mereka berusaha banyak sekali cara untuk keluar tapi semuanya gagal. Akhirnya tiada jalan lain kecuali bermohon dan mengadu kepada Allah. Mereka tahu hanya Allah yang sanggup melepaskan mereka. Keputusan diambil biar tiap-tiap orang mengadu atau bertawassul dengan amal kebajikan yang mereka buat.

Pemuda pertama berdoa: "Ya Allah, saya pernah berbuat amal soleh terhadap kedua ibu bapak saya. Suatu hari saya pulang dari kerja dan merasa sangat lapar. Saya sangka ibu saya sudah masak nasi tapi rupanya belum alasannya kehabisan beras. Saya terus keluar untuk beli beras. Ketika pulang, saya lihat ibu saya tertidur. Saya tidak berani membangunkannya walaupun saya sangat lapar hingga ia tersedar sendiri. Ya Allah, bila ini merupakan amal kebajikan yang lapang dada terhadap ibuku dan menerima keridhaanMu, tolonglah kami untuk keluar dari sini."

Tiba-tiba pintu itu terbuka sedikit dengan karunia Allah, namun mereka masih belum boleh keluar.

Giliran perjaka kedua berdoa: "Ya Allah, saya juga memiliki amal soleh. Saya memiliki gedung perusahaan dan memiliki banyak pekerja. Setiap pekerja dibayar honor sempurna pada waktunya. Pada satu dikala seorang pekerja tidak tiba mengambil honor bulanannya sehingga beberapa bulan. Uang gajinya saya gunakan untuk membeli barang-barang perniagaan sehingga saya untung 10 kali lipat dari uang asalnya. Beberapa bulan kemudian, pekerja itu tiba kembali kemudian saya serahkan semua hartanya termasuk laba yang saya niagakan. Ya Allah, sekiranya ini merupakan amal baik yang menerima keredhaanMu, tolonglah kami dalam kesusahan ini!"

Sebaik saja habis merayu, tiba-tiba pintu itu bergerak sedikit tetapi masih belum boleh keluar.

Akhirnya hingga giliran perjaka ketiga: "Ya Allah, saya bahwasanya tidak memiliki suatu amalan yang dianggap penting. Sepanjang ingatanku, hanya sekali saya berbuat baik kerana aib kepada Engkau ya Allah. Aku ditugaskan membahagi-bahagikan makanan kepada orang-orang miskin. Semasa bekerja saya melihat seorang gadis bagus yang juga meminta bahagiannya. Setelah semua orang pulang, saya pun memanggil gadis itu dan menyatakan niat jahatku kepadanya. Gadis itu menangis seraya berkata ia rela mati kelaparan daripada melaksanakan dosa perbuatan terkutuk itu. Aku menjadi serba salah dan tiba penyesalan yang tidak terhingga. Aku aib dan insaf atas kesalahanku. Ya Allah, sekiranya penyesalan dan taubat ini Kau terima, tolonglah kami dari kesusahan ini."

Tiba-tiba pintu gua itu terbuka luas dan mereka pun keluar dengan selamat.

Comments