Kholifah Absurd ???




ajurNA: Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barang kali lantaran Umar di masa mudanya banyak dosa, menyerupai merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, hingga orang tidak bersalah banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian setelah akibat menunaikan shalat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak juga sendirian,. Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan kode yang terperinci bahwaUmar bin Kaththab sudah gila?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat sedih mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampirsemua rakyat Madinah telah setuju menganggap Umar betul-betul sinting. Dan,sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melaksanakan salat Jum'at yang lalu,ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya,sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!"Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannyadengan isi khotbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum shalat Jum’at hari itu.

Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,
"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbahengkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?"

Umar dengan damai menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat saya mengirimkan Suriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala saya sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankandiri yakni sebuah bukit dibelakang mereka. Maka saya berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!"

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian akibat melaksanakan salatfardhu?" tanya Abdurrahman pula.
Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum masuk Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan saya tertawa bila teringat akan kebodohanku. Kubikin patung dari tepung gandum, dan kusembah-sembah menyerupai Tuhan."

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih menunjukan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau? Masak ia sanggup melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhotbah?

Akhirnya, bukti itupun tiba tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun faktual sekali gejala kelelahan dan bekas-bekas luka yang diderita mereka. Mereka tiba membawa kemenangan.

Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakatMadinah perihal dasyatnya peperangan yang dialami mereka. "Kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa impian akan sanggup meloloskan diri dengan selamat.Lawan secara beringas menghantam kami dari banyak sekali jurusan. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah ketika shalat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah ajakan mistik yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tigakali ajakan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya.Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di pecahan belakang. Dengan demikian kami sanggup menghadapiserangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahmanke mudian berkata,

"Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat. Sebab ia sanggup melihat sesuatu yang indera kita tidak bisa melacaknya"


Comments