CINTA, CINTA DAN HANYA CINTA
Disunnahkan orang yang mengasihi saudaranya alasannya yaitu Allah untuk mengabari & memberitahukan cintanya kepadanya. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Ia berkata hadist ini hasan dari Miqdad bin Ma’di dari Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, dia bersabda:
“Jika seseorang mengasihi saudaranya alasannya yaitu Allah, maka kabarkanlah bahwa ia mencintainya.”
Abu Nashr al-Tusi, dalam kitab Al-Luma` membagi al-mahabbah atau cinta menjadi 3 (tiga) tingkatan
1. Cinta orang kebanyakan ( umum.), yakni mereka yang sudah kenal pada Tuhan dengan zikr, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Senantiasa memuji Tuhan.
2. Cinta para mutahaqqiqin, yaitu mereka yang sudah kenal pada Tuhan, pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain sebagainya. Cinta yang sanggup menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dengan Tuhan. Dengan demikian ia sanggup melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan obrolan dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari obrolan itu. Cinta yang kedua ini menciptakan orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
3. Cinta para siddiqin dan ’arifin, yaitu mereka yang kenal betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mengasihi .
Definisi cinta dari uraian di atas yaitu berdasarkan para ulama’ salaf. Dan cinta yang dimaksud di atas yaitu cinta kepada Allah.
1. Cinta orang kebanyakan ( umum.), yakni mereka yang sudah kenal pada Tuhan dengan zikr, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Senantiasa memuji Tuhan.
2. Cinta para mutahaqqiqin, yaitu mereka yang sudah kenal pada Tuhan, pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain sebagainya. Cinta yang sanggup menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dengan Tuhan. Dengan demikian ia sanggup melihat rahasia-rahasia
3. Cinta para siddiqin dan ’arifin, yaitu mereka yang kenal betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mengasihi .
Definisi cinta dari uraian di atas yaitu berdasarkan para ulama’ salaf. Dan cinta yang dimaksud di atas yaitu cinta kepada Allah.
HADIST TENTANG CINTA
Hadist riwayat Abu Dawud dengan sanad yang shahih dari Anas bin Malik:
Ada seorang pria berada di bersahabat Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kepadanya lewat seorang yang lain. Laki-laki yang di bersahabat Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam! Sungguh saya mencintainya.” Maka Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau sudah memberitahukann ya?” Ia menjawab, “Belum” Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!” Kemudian ia mengikutinya dan berkata, “Sungguh saya mencintaimu alasannya yaitu Allah.” Laki-laki itu pun berkata: “Semoga engkau dicintai Allah, yang karena-Nya engkau mencintaiku.”
Ada seorang pria berada di bersahabat Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kepadanya lewat seorang yang lain. Laki-laki yang di bersahabat Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam! Sungguh saya mencintainya.” Maka Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau sudah memberitahukann
Rasulullah Saw. yang bersabda dalam satu doanya, “ya Allah, berilah saya rezeki cinta Mu dan cinta oran yang bermanfaat buat ku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang saya cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapat yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang saya cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai. (H R. Al-Tirmidi)
Disunnahkan orang yang mengasihi saudaranya alasannya yaitu Allah untuk mengabari & memberitahukan cintanya kepadanya. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Ia berkata hadist ini hasan dari Miqdad bin Ma’di dari Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam, dia bersabda:
“Jika seseorang mengasihi saudaranya alasannya yaitu Allah, maka kabarkanlah bahwa ia mencintainya.”
Rosullah Saw bersabda, Cintailah kekasihmu sewajarnya saja alasannya yaitu bias saja suatu ketika nati ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah sewajarnya alasannya yaitu bias saja suatu ketika nanti ia akan menjadi kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi
Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di nirwana nanti terlihat menyerupai bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?, “mereka itu yaitu orang-orang yang mengasihi alasannya yaitu Allah ‘Azzawajalla. (HR. Ahmad).
Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk nirwana sebelum kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Tidakkah saya tunjukkan kepada kalian mengenai sesuatu yang ketika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!. (HR. Muslim)
. “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah itu ada beberapa orang yang bukan golongan nabi dan syuhada, namun para nabi dan syuhada menginginkan keadaan menyerupai mereka, alasannya yaitu kedudukannya di sisi Allah. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah tolong beritahu kami siapa mereka?” Rasulullah SAW menjawab : “mereka yaitu satu kaum yang cinta mengasihi dengan ruh Allah tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat diantara mereka serta tidak adak hubunga harta benda yang terdapat pada mereka. Maka demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita”. (HR. Abu Daud)
Hadist riwayat Al-Bazaar dengan sanad hasan dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang mengasihi seseorang alasannya yaitu Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu alasannya yaitu Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mengasihi alasannya yaitu Allah.”
“Siapa yang mengasihi seseorang alasannya yaitu Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu alasannya yaitu Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mengasihi alasannya yaitu Allah.”
“Allah SWT. berfirman, ” Pasti akan mendapat cintaKu orang-orang yang cinta-mencintai alasannya yaitu Aku, saling kunjung-mengunj ungi alasannya yaitu Aku dan saling memberi alasannya yaitu Aku.” (Hadits Qudsi)”.
Diriwayatkan oleh Hakim, Khatib, Ibnu Asakir, Dailami dan lainny; Rasulullah bersabda;
“Barang siapa yang jatuh cinta, kemudian tetap menjaga kesucian dirinnya, menyembunyikan rasa cintanya dan bersabar sampai mati maka dia mati syahid.” Sungguh sangat beruntung orang yang mengasihi dengan kesucian diri dan berlindung dari godaan syetan yang terkutuk. Tentunya orang yang menjaga cintanya yang suci sampai ia meninggal dunia.
“Barang siapa yang jatuh cinta, kemudian tetap menjaga kesucian dirinnya, menyembunyikan rasa cintanya dan bersabar sampai mati maka dia mati syahid.” Sungguh sangat beruntung orang yang mengasihi dengan kesucian diri dan berlindung dari godaan syetan yang terkutuk. Tentunya orang yang menjaga cintanya yang suci sampai ia meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ingin merasakan manisnya keimanan, hendaklah ia mengasihi seseorang, yang tidak ia cintai kecuali alasannya yaitu Allah”. (HR Ahmad). Dan dalam haditsnya yang lain dia bersabda, “Tidaklah seorang hamba Allah mengasihi hamba Allah alasannya yaitu Allah, kecuali dia akan dimuliakan oleh Allah”.
“Sesungguhnya Allah SWT pada hari simpulan zaman berfirman: “Dimanakah orang yang cinta mengasihi alasannya yaitu keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku”. (HR. Muslim)
“Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, kemudian Allah mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya, ia berkata: “Kau mau kemana?” Ia menjawab: “Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini. “Lalu malaikat bertanya: “Apakah kau akan memperlihatkan sesuatu kepada saudaramu?” Ia menjawab: “Tidak ada, melainkan hanya saya mencintainya alasannya yaitu Allah SWT”. Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kau mengasihi orang tersebut karena-Nya”. (HR. Muslim)
“Tiga perkara, barangsiapa memilikinya memilikinya, ia sanggup merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang kepada Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakkan ke dalam api neraka”. (HR. Bukharim Muslim)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mengasihi seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mengasihi si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mengasihi si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mengasihi seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mengasihi si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mengasihi si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi

Comments
Post a Comment