Sandi Dan Aldi, Balita Yang Kecanduan Rokok

Disaat takdir Allah terwujud, disaat jodoh sudah datang, dan disaat ijab kabul telah terlaksana, maka satu keinginan yang ada dalam benak pasangan pengantin tersebut yaitu hadirnya sang buah hati (anak) yang akan menghiasi rumah tangga gres tersebut.

Anak yaitu permata bagi setiap keluarga dan merupakan anugerah terindah dalam kehidupan rumah tangga. Mereka yaitu amanah Allah yang dititipkan kepada setiap orang renta yang sudah seharusnya dijaga kesuciannya, dididik, dipelihara serta dibimbing dalam menjalani hidup yang penuh tantangan dan cobaan ini. Demikian itu alasannya mereka yaitu generasi bangsa ini, yang akan mendapatkan estafet kepemimpinan dimasa mendatang. Namun sayang seribu kali sayang, bawah umur kita dikala ini dihadapkan dalam dunia yang serba gelap. Faktor lingkungan, bacaan dan tontonan begitu besar imbas negative yang tentunya cepat atau lambat akan memperlihatkan dampak yang kurang baik bagi bawah umur kita.

Hari ini ( Senin, 31 Mei 2010) hatiku murung dan pilu dikala menyaksikan sebuah program bingkai isu Trans TV. Anak balita yang usianya kurang lebih 2,5 tahun berjulukan Aldi berasal dari Desa Telukkemang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan sudah kecanduan rokok. Dalam satu hari beliau sanggup menghabiskan lebih dari dua bungkus rokok.

Aldi mulai merokok semenjak berumur 1,5 tahun atau tepatnya setahun yang lalu. Pada mulanya Aldi terus menangis, namun tangisannya terhenti dikala ia diberi rokok oleh ibunya. Sejak itulah Aldi ini kecanduan rokok. Balita ini pun selalu minta dibelikan rokok kepada orang tuanya layaknya seorang bocah meminta permen. Jika tidak merokok, balita ini mengaku pusing hingga ia menangis. Bocah bertubuh gempal ini pun jarang makan dan ia lebih banyak mengisap rokok.
Pada suatu hari tim dari transTV menantang Aldi untuk tidak merokok selama 3 jam. Ditemuinya Aldi yang pagi itu menemani ibunya yang berdagang dipasar, tim berjanji akan memperlihatkan uang atau hadiah jikalau bisa selama 3 jam tidak merokok. Aldi menyetujui nya, pada jam pertama beliau masih bisa diatasi, jam kedua beliau mulai merengek dan menangis sebelum memasuki jam ketiga sudah tak sanggup mengendalikan diri, mulai mengamuk dan mengambil uang ibunya kemudian menghampiri penjual rokok.

Karena penjual rokok tidak melayaninya belakangan badan Aldi melemah ibarat hendak pingsan. Baru saja melewati 2 jam tim penantang mengalah dan memperlihatkan rokok pada Aldi yang kemudian dihisapnya dengan penuh kenikmatan.

Fenomena asing dan diluar kebiasaan anak pada umumnya ini gotong royong tidak hanya menimpa Aldi balita dari Desa Telukkemang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan tersebut.

Pada pertengahan bulan Maret tahun 2010 yang kemudian ada juga isu yang disiarkan pada salah satu TV swasta, seorang balita berjulukan Sandi Adi Susanto yang gres berumur 4 tahun asal Kota Malang, Jawa Timur yang gemar merokok dan berbicara kotor.

Menurut ibunya, keseharian Sandi ketika berada di rumah dan menjelang tidur juga tidak ubahnya ibarat balita lainnya, membutuhkan dot susu dan bermanja pada ibunya.

Setiap pagi sehabis bangkit tidur dan basuh muka, Sandi pribadi minta rokok. Setelah merokok Sandi pribadi diambil oleh 'teman-temannya' yang bekerja sebagai tukang parkir atau tambal ban dan gres sore hari Sandi "dikembalikan" ke rumah.

Sandi semenjak kecil sudah mendapatkan "modelling" dari lingkungan sekitarnya yang rata-rata perokok berat dan merokok dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kondisi ini mempengaruhi perjalanan hidup Sandi sehingga pada usia 1,5 tahun Sandi sudah kenal dan mulai kecanduan rokok serta fasih dalam mengucapkan kata-kata kotor.

Pada dasarnya Sandi sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya dan tidak paham terhadap apa yang diucapkannya. Demikian itu alasannya bahasa yang dipelajarinya terbatas dan sikap yang menjadi panutan dari lingkungannya juga ibarat itu, maka Sandi pun hanya paham dengan apa yang dilihat dan didengar setiap hari.

Sandi dan Aldi yaitu fenomena yang menimpa anak bangsa. Kondisi yang menimpa kedua balita ini tidak menutup kemungkinan juga bisa menimpa bawah umur kita, bilamana kita sebagai orang renta tidak bisa memperlihatkan contoh faktual serta tidak memperlihatkan bimbingan dan instruksi juga batasan pergaulan bawah umur kita.

Ingatlah bahwa tugas orang tua, lingkungan, bacaan dan tontonan sangatlah besar dalam memberi warna bagi jiwa, moral serta kepribadian bawah umur kita. Maka dari itu, teori pendidikan anak yang ditawarkan oleh islam yang termaktup dalam Al-qur’an dan hadist Rasulullah mari kita terapkan dalam lingkungan keluarga kita. Bagaimana dengan pendapat anda sebagai orang renta atau para pendidik…? Bila ada teori faktual yang bisa ditawarkan…. Dipersilahkan untuk disampaikan, semoga asas manfaat lebih sanggup kita rasakan bersama.

Wallahu a’lam.

Comments