Pengertian Nafsu Dan Pembagiannya

Nafsu secara etimologi berarti jiwa. Adapun nafsu secara terminologis ilmu tasawwuf akhlaq, nafsu ialah dorongan-dorongan alamiah insan yang mendorong pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Adapun penertian hawa nafsu ialah sesuatu yang disenangi oleh jiwa kita yang cenderung negatif baik bersifat jasmani maupun nafsu yang bersifat maknawi. Nafsu yang bersifat jasmani yaitu sesuatu yang berkaitan dengan badan kita menyerupai makanan, minum, dan kebutuhan biologis lainnya, Nafsu yang bersifat maknawi yaitu, nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan rohani seperti, nafsu ingin diperhatikan orang lain, ingin dianggap sebagai orang yang paling penting, paling pinter, paling berperan, paling hebat, nafsu ingin disanjung dan lain-lain.Hawa nafsu inilah yang mengakibatkan imbas buruk / negatif bagi manusia

Dari segi tahapan nafsu terbagi menjadi tiga bab yaitu :

1. Nafsu amarah
Yaitu jiwa yang masih cenderung kepada kesenangan-kesenangan yang rendah, yaitu kesenangan yang bersifat duniawi. Nafsu ini berada pada tahap pertama yang tergolong sangat rendah, alasannya ialah yang mempunyai nafsu ini masih cenderung kepada perbuatan-perbuatan yang maksiat. Secara alami nafsu amarah cenderung kepada hal-hal yang tidak baik. Bahkan, alasannya ialah kebiasaan berbuat keburukan tersebut, bila mana beliau tidak melakukannya, maka beliau akan merasa gelisah, sakau dan resah gulana.
Allah SWT berfirman dalam al-qur’an
Artinya: Sesungguhnya nafsu itu suka mengajak ke jalan kejelekan, kecuali (nafsu) seseorang yang mendapat rahmat Tuhanku (QS. Yusuf : 53).

2. Nafsu Lawwamah
Yaitu jiwa yang sudah sadar dan bisa melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya melaksanakan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi.
Ustadz Arifin inspirasi pernah menyampaikan , bahwa orang yang masih mempunyai nafsu lawammah ini biasanya disaat ia melaksanakan maksiat/dosa maka akan timbul penyesalan dalam dirinya, namun dalam kesempatan lain ia akan mengulangi maksiat tersebut yang juga akan diiringi dengan penyesalan-penyesalan kembali. Selain itu ia juga menyesal kenapa ia tidak sanggup berbuat kebaikan lebih banyak Nafsu ini tergolong pada tahap kedua, nafsu ini disinyalir Al-Qur’an :
Artinya : Dan saya bersumpah dengan jiwa yang amat meratapi (dirinya sendiri). (QS. Al- Qiyamaah : 2).

3. Nafsu Mutmainnah
Yakni jiwa tenang, tentram, alasannya ialah nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang tepat berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT, Sebagaimana firman-Nya:
Artinya : Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al - Fajr : 27-28).

Dalam ayat lain Allah menghiburnya yaitu :
Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (QS. Asy – Syams : 9).

Comments