Cinta butuh dalil?

Tanamkan dalam dada kita cinta kepada Rasul


Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam adalah seorang pemimpin yang sangat mencintai umatnya. Pada saat Rosul hijrah ke Toif beliau dilempar dengan batu oleh penduduk Toif sampai wajah Beliau berlumuran darah, sampai malaikat Jibril AS berucap kalau sampai darahmu menetes di tanah toif ini aku akan berdoa semoga tak satupun tumbuhan yang akan tumbuh dan berbuah sampai hari kiamat nanti. tetapi Rosul berkata jangan, mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. kalau mereka belum bisa menerima ajaranku siapa tahu anak atau cucu mereka yang akan mengikutiku.


Di saat Rosulullah akan diambil oleh Allah Subhanahu wata'ala Beliau ditawari oleh malaikat Izroil, Sudah siapkah Anda menghadap kepada Allah SWT ? apakah Anda sudah bersedia aku cabut nyawamu? kalau Anda belum bersedia aku akan menunggumu sampai Anda bersedia. Rasul bertanya bagaimana dengan umatku? lagi-lagi kita yang dipentingkan, bukan istrinya, bukan putra-putrinya tetapi umatnya yang ada di pikiran Beliau. Izroilpun menjawab, Allah berkata sebelum habis umatmu masuk ke surga tidak akan ada umat lain selain umatmu yang masuk ke syurga.Kalau begitu tidak ada yang perlu ditunggu silakan anda cabut nyawaku. begitu cintanya kepada umat sampai menjelang ajal beliau memikirkan kita umatnya.


Begitu besarnya cinta Rasul kepada umatnya apakah berlebihan jika kita juga menunjukkan rasa cinta kita kepada Beliau? dengan membaca maulidur Rasul setiap saat membaca sejarah dan akhlak - akhlak Beliau supaya kita lebih mengenal kepribadian Rasul sebagai suri tauladan yang baik, dan menirunya dalam kehidupan sehari-hari. apakah itu Bid'ah? perlu dalil ? saya jawab BUKAN BID'AH dan TIDAK PERLU DALIL (walaupun sudah jelas dalilnya dalam al Qur'an).

Saya sangat senang melihat film, suka makan grombyang , apakah perlu dalil? apakah orang CINTA perlu dasar atau dalil ? jika kita sejak lahir sampai meninggal kita habiskan dengan membaca maulid tidak akan sebanding dengan cinta dan pengorbanan Rosul terhadap umatnya.

Kalau demikian balasan apa yang kita berikan kepada Rasul ? tahu dirikah kita? apakah pantas kita mendapat legitimasi dari Beliau sebagai umatnya ? tidak perlu dijawab.


Comments